Trend Baju Bodo Remaja ala Kebaya

Dapat dibilang, busana adat nusantara indonesia menggambarkan satu di antara kekayaan budaya yang paling diminati dunia internasional tetapi dibiarkan rakyatnya sendiri. bayangkan betapa banyaknya model sampai alterasi busana dari tiap wilayah yang saat ini dimodernisasikan malah tidak setimpal pakem dan meninggalkan bukti diri aslinya. baca Juga Kebaya Modern Remaja Untuk Wisuda

Baju Bodo Remaja ala Kebaya

hal ini nampak langsung dari perempuan bugis – makassar yang menggunakan pakaian bodo sebagai identitasnya. bersamaan peningkatan era, banyak yang mulai memodifikasi penampilannya dan mengambil alih pakaian bodo dengan kebaya modern.

terpinggirnya pakaian bodo diakibatkan beberapa hal , salah satunya merupakan untuk menjajaki tren dan penggunaannya yang lebih simpel dan membuat badan nampak lebih menarik. pakaian bodo yang siluetnya notabene bervolume dan besar sering membuat perempuan enggan memakaianya karna cemas badannya nampak terus menjadi gendut.

oleh karena itu pakaian adat tersebut hanya dapat kita lihat dari momen – momen adat – istiadat seperti resepsi perkawinan, akad nikah sampai upacara kekeluargaan. ada juga nilai filosofis dari pakaian bodo tersirat dari pemilihan rupanya. walaupun dikatakan dari bermacam sumber kalau hal ini sudah ditinggalkan cukup lama, tak memiliki salahnya kita mengetahuinya. seperti apakah itu?

corak jingga (oranye) dipakai anak wanita berumur sekitar 10 tahun, sebaliknya merah terang untuk 10 sampai 14 tahun. untuk anak muda gadis berumur 17 – 25 tahun, palet corak merah dan turunannya menjadi opsi tentu. corak hijau dipakai oleh gadis bangsawan dan ungu untuk para janda. corak putih hanya dipakai oleh para ahli mistik ataupun pengobatan. untuk bawahan, semua atasan ini dipadukan dengan sarung sutra bercorak kotak sampai polos senada.

dipaparkan pula oleh koestriastuti koestedjo dari cita tenun indonesia yang diwawancarai via e – mail oleh wolipop, senin (13/8/2012) , sulawesi memiliki kain peninggalan budaya yang tidak dapat disepelekan keindahannya, mengingat kerumitan proses pengerjaan oleh tenaga ahli para pengrajin.

sebut saja tenun sutera ikat dan polos dari makasar, sulawesi selatan. adapula tenun mandar dari sulawesi barat dan tenun sobi dari palu, sulawesi tengah. dari sulawesi tenggarapun ada tenun buton yang khas tampilannya dengan sentuhan artistik yang indah.

koestriastuti juga menekankan dari sekian banyak modifikasi yang dibuat ataupun diterapkan pada kain – kain istimewa ini, ada sebagian hal yang wajib dilindungi supaya tidak keliru pesan yang di informasikan. salah satunya merupakan supaya jangan sampai terjalin macam hias yang hanya boleh dipergunakan untuk menghias busana, malah dipakai pula untuk menghias produk bidang dalamnya ataupun desain produk.

dalam sebagian permasalahan, adapula pengrajin yang berupaya membuat produknya nampak modern dan membuat kesalahan arti produk. koestriastuti juga memberikan contoh di mana macam hias tenun dicetak dengan label batik, sementara itu hal ini keliru. ” wajib senantiasa ditulis di pinggiran kain kalau itu merupakan tekstil bermotif tenun ataupun batik, ” ucapnya meluruskan.

pasar yang berlomba – lomba untuk mengedepankan penjualan produk etnik juga sering menipu konsumen, dimana kerap ditemui nama dari pembatik ataupun secarik kain yang dijahitkan pada kain batuk tulis tersebut. sementara itu yang buatnya merupakan pengrajin ataupun malah batik tersebut bukan dikerjakan dengan proses celup.

kejujuran para pengarjin ataupun produsen dalam menjual kain berlaku pula pada kain tenun. pengrajin wajib ketahui olahan baku apa yang dipakai; mulai dari benang sampai perona.

Tinggalkan Balasan